Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 19, 2009

Ketika Larasati Menjual Mobil

(SEBUAH CERPEN) Sudah puaskah engkau menertawakanku? Aku berhenti menangis ketika kusadari beban hidupku adalah permainanmu. Aku menerima kembali lelaki yang kusodorkan untuk menjadi pendamping hidupku meskipun bertahun-tahun ia menjejaliku dengan perbuatan kotor menjijikkan. Aku menerimanya karena kutahu dalam setiap hembusan nafasku kau coba mempengaruhiku untuk meninggalkannya. Apalagi yang kau inginkan dariku? Gugatan Larasati tak pernah berhenti. Sejenak ia melupakan bayangan suaminya yang dulu sungguh dikaguminya. “Sudah lima hari mobil laku dijual, mana dong bagian untukku? Paling tidak kasih pinjaman buatku,” kata Bagas sambil berlalu keluar dari WC. Ia sempat melirik pada Larasati yang sedang memoleskan lipstick di bibirnya. Enggan menjawab gugatan itu, ia menjawab sekenanya dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Kau keras kepala. Aku memang harus keras kepala. Kau tak iba pada suamimu Kau seharusnya lebih memahami tidak sekadar pada persoalan sesaat saja Kau punya uang banyak ...