Postingan

Hipnotis Dimana Saja...

Sahabat... aku harus menuliskan kisahmu, meskipun mungkin kau tak akan pernah setuju.  Bukan untukmu tetapi untukku, dan untuk sahabat-sahabat kita yang lainnya. Aku tak berusaha menakut-nakuti atau melarang orang berkenalan dengan banyak orang baru. Namun satu hal yang harus kita pahami bersama, gendam atau hipnotis itu tidak hanya terjadi di terminal atau stasiun angkutan umum, tetapi bisa terjadi DIMANA SAJA. Ya... catat itu, bisa terjadi dimana saja, kalau perlu harus ditambahkan underline dan bold. Nah, dalam hal apa yang kau alami, percayalah, itu bisa terjadi pada siapa pun. Juga pada orang berpendidikan tinggi dan cerdas sepertimu. Naif kalau kukatakan penangkalnya hanya berdoa. Doa memang penting dan memang segalanya, tetapi kita juga harus tetap berusaha dan berjaga-jaga. Tawaran orang baru yang mengaku bisa membuat kartu ATM bisa digunakan berbelanja dimana pun tanpa berkurang saldonya, memang menggiurkan. Siapa yang tidak mau? Namun ketika tawaran itu datang, ...

Sering Caper Bikin Capek

Suatu kali, anak kecil di rumahku makan lupis. Entah bagaimana awal mulanya, kuah gula yang oleh orang Jawa disebut kinco itu menempel di atas bibirnya sehingga menyerupai kumis. Aku yang ada di sebelahnya, tertawa melihat celemotan di mulutnya. Mukanya lucu sekali karena tidak mengerti apa yang kutertawakan. Ketika akhirnya paham, ia ikut tertawa. Di gigitan berikutnya, ia mencoba lagi membuat hal yang kurang lebih sama. Aku masih tertawa tetapi tak merasakan kelucuan. Ia merasa ada yang salah dengan "kumisnya" jadi ia mencoba lagi dan mencoba lagi. Aku mulai diam saja. "Kenapa Ibu tidak tertawa lagi?" "Sudah enggak lucu," kataku. Ia memaksa aku menjelaskan mengapa tadi tertawa ngakak tapi kemudian ketika diulang tidak lucu lagi? Memangnya lucu tidak berlaku lama? Iya nak, semua orang bikin kelucuan, kekeliruan, kesalahan. Tapi kalau sudah dikasih tahu, ditegur, masih diulang lagi, kelucuan akibat hal yang tidak pada tempatnya itu lama-lama membos...

Seni dan Sastra Penyeimbang Jiwa

Kenapa banyak jiwa manusia Indonesia mendadak seperti ranting kering? Kota besar memberikan banyak uang untuk menikmati kemewahan dan kemudahan, apalagi di era digital. Namun ingat, tak pernah ada yang gratis. Kemewahan dan kemudahan itu merenggut hampir semua yang kau miliki. Tak ada lagi kesempatan untuk silaturahmi. Tak pernah ada rujakan karena rujak bisa dibeli tanpa harus meninggalkan rumah. Tak ada lagi masak bareng buat arisan karena arisan bisa dilakukan lewat chat , kemudian transfer. Lalu nyinyirisme menyentak kita, radikalisme memporakporandakan kenyamanan. Kompas (23/9/2017) memuat tulisan berjudul "Sastra Masih Terpinggirkan". Harian itu mengutip dosen Sanata Dharma Yogyakarta, A Bagus Laksana SJ yang menyitir hasil penelitian antropolog Diego dan Steffen Hertog. Gerakan radikal lebih menggoda mereka yang berlatar belakang pendidikan universitas, bukan orang-orang muda yang miskin, seperti yang banyak dipercaya banyak orang di Indonesia. Secara khusus para i...

Makan adalah Proses Belajar

Makan saja kok harus dipahami sebagai proses belajar sih? Hidup tidak usah dibikin rumit. Nyuapin anak mah bisa dimana saja, apalagi kalau anaknya masih kecil. Bisa sambil chatting, nonton televisi, atau kalau memang lagi sibuk, suruh saja “si embak” nyuapin anak-anak. Beres…  Tunggu dulu ya… sabar… baca dulu baik-baik tulisan pendek ini. Dalam perspektif Dr. Ir. Dwi Hastuti, M.Sc, soal memberi makan pada anak adalah sebuah proses belajar. Tidak bi sa dibuat main-main. Anak punya hak untuk tahu kandungan nutrisi yang ada pada setiap makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Caranya? Libatkan anak-anak dari sejak memilih bahan makanan, mengolah, sampai ketika menikmatinya. Kesalahan fundamental orang tua ketika mengajari anak makan adalah membiasakan anak-anak mengikuti apa yang menjadi kesukaan atau ketidakuskaan orang tua. Kalau orang tua tidak suka ikan, maka tak ada menu ikan di rumah. Dan itu keliru. Sekalipun orang tua tidak suka, segala jenis makanan yang bermanfaat bagi ...

Terima Kasih Foke...

 20 September menjadi hari bersejarah bagi publik Jakarta. Hari itu adalah hari penentuan pemilihan gubernur melalui pemungutan suara putaran kedua. Televisi berita hampir tak pernah berhenti menggambarkan putaran terakhir Pilkada yang diikuti Foke-Nara dan Jokowi-Ahok sebagai “duel” habis-habisan. Berbagai animasi ditampilkan untuk menunjukkan betapa sengitnya pertarungan antara dua pasang kandidat tersebut. Di antara animasi yang ditampilkan ada yang lucu—bahkan cenderung melecehkan—ada pula yang menggambarkan suasana duel fisik dengan kedua calon “didandani” layaknya petinju. Tayangan yang hampir tak henti selama berhari-hari tiada henti memang membuat fokus publik Jakarta, bahkan seluruh penonton televisi—sekalipun bukan masyarakat Jakarta—merasakan kegempitaan membahas Foke-Nara dan Jokowi-Ahok. Maka seusai melakukan pencoblosan, saya pun ingin merasakan kemeriahan di hari pemilihan. Tujuannya adalah Jalan Borobudur 22 yang menjadi markas Tim Sukses Jokowi-Ahok. M...

Aku Memanggilnya “Darling....”

Aku memanggilnya darling. Kadang-kadang kupanggil dia dengan sebutan sweetheart atau cukup dengan kata sayang. Namun sehari-hari kami membahasakan diri “lu” dan “gue”. Aku ingin ia tak berjarak padaku, jadi kuingin dia menyapaku dalam sapaan yang paling akrab di lingkungan Jakarta, yaitu “lu” dan “gue”. Panggilan itu begitu cepat berubah ketika ada penekanan yang perlu kusampaikan agar dia memberikan perhatian penuh. Misalnya aku mengubah sebutan “gue” menjadi mama. Perubahan itu kulakukan kalau aku ingin memberi aksen pada hubungan orang tua dan anak. Kedekatan, kehangatan. Pada saat tertentu kata ganti orang pertama kuganti dengan kata saya, yang akan langsung membuatnya terkesiap, tersadar, bahwa ada sesuatu yang tidak tepat telah dilakukannya. Biasanya perubahan kata ganti menjadi saya langsung membuat suasana menjadi lebih formal. Tak ada landasan pemikiran yang baku ketika di awal mula harus memilih panggilan. Aku dan suamiku memilih sapaan “lu” dan “gue” pada anak kami, ti...

Siapakah Majikan Kita?

Kepada siapakah kita mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan? Ketika akan menjawab pertanyaan itu, sejurus pikiran akan melayang pada pertanyaan siapakah majikan kita. Suatu hari di tahun 2010, seorang menteri minta advise pada perusahaan konsultan komunikasi kami. Setelah usai mempresentasikan strategi-strategi komunikasi yang sudah kami susun, sang menteri pun memberikan komentar. Di antara komentar, sekaligus permintaannya, ada satu pernyataan yang tidak akan pernah dapat kami lupakan. “Mbak... menteri itu pembantu Presiden, jadi strategi komunikasi yang paling tepat adalah bagaimana Presiden bisa mengetahui bahwa saya sebagai menterinya sudah bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya.”  Pernyataan sang menteri tentu saja masih panjang lebar menjelaskan betapa pentingnya presiden mengetahui apa yang sudah dikerjakannya supaya posisinya tidak digoyang badai reshuffle atau bahkan bisa diangkat lagi pada periode berikutnya. Penekanan bahwa “majikan” menteri adalah presiden—kar...